Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho

44 735x400 - Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho

Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho

Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho – Antiseptik atau germisida adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan, yaitu antibiotik di gunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan di gunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati.

Seorang selebgram tanah air baru saja mendapatkan teguran dari warganet. Bukan tanpa alasan, ini terjadi karena ia memeragakan cara pencegahan virus corona yang salah dan bisa menyesatkan para pengikutnya. Melalui salah satu platform berbagi video, ia tampak mencampurkan sebotol air mineral dengan cairan antiseptik tanpa takaran.

Selanjutnya ia menjadikan Daftar IDN Poker larutan tersebut sebagai cairan diffuser atau humidifer, alat untuk melembapkan ruangan. Selain itu, ia juga asal menuang, tidak mengikuti takaran yang di anjurkan. Ini bukanlah metode yang tepat untuk menangkal virus corona, justru bisa membahayakan siapa pun yang mencontohnya. Kenapa demikian?

1. Menghirup cairan antiseptik berbahaya untuk paru-paru
1 587e4506f2d47edf340ca38c478a8dab - Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho

Bahan utama yang menyusun cairan antiseptik adalah chloroxylenol 4,8 persen. Konsentrasi tersebut memang sudah terbukti aman untuk penggunaan luar, yaitu pada kulit, kecuali bagi orang yang alergi atau memiliki kulit sensitif.

Namun chloroxylenol sangat berbahaya jika sampai masuk ke tubuh kita, termasuk melalui jalur pernapasan, demikian penjelasan dari PubChem. Jika sampai terhirup dan masuk ke paru-paru, bahan kimia tersebut bisa menimbulkan acute lung injury atau cedera paru-paru akut dan iritasi selaput lendir pada saluran pernapasan.

Menurut studi yang di publikasikan PLOS One pada tahun 2013, kasus penggunaan antiseptik sebagai cairan diffuser juga pernah terjadi di Korea Selatan. Banyak warga yang menggunakan metode tersebut saat musim semi. Akibatnya jumlah pasien penyakit paru interstitial, terutama pada anak-anak pun meningkat

2. Jika di masukkan ke dalam diffuser, antiseptik juga bisa tertelan dan terkena mata
2 7aacd9c808910048511b318ff7164ff7 - Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho

Tidak hanya itu, cairan antiseptik yang di uapkan juga bisa menyebar ke seluruh ruangan, kan? Seluruh permukaan benda dan sekujur tubuh kita akan terkena paparannya. Uap dari antiseptik pun berpotensi untuk masuk ke mata dan tertelan oleh kita.

Padahal menurut peringatan dari PubChem, cairan tersebut di larang keras untuk digunakan di area mata dan di telan. Ini akan menyebabkan keracunan akut serta kerusakan mata yang cukup parah.

3. Lagi pula virus corona tidak bisa hidup di udara bebas
3 8ed516db1b1bf1bcd3b688a8a0f15d23 - Viral Pakai Antiseptik untuk Cairan Diffuser yang Ternyata Bahaya Lho

Nah, kini kamu sudah tahu, kan, betapa bahayanya jika antiseptik di gunakan sebagai cairan diffuser? Lagi pula, cara ini juga sia-sia untuk di lakukan. Sebab virus corona atau SARS-CoV-2 tidak bisa hidup di udara bebas, apalagi di lingkungan rumah.

Memang virus tersebut bisa bertahan di permukaan benda, tapi bukan seperti ini cara untuk membasminya. Cukup semprotkan cairan disinfektan, tunggu sepuluh menit, lalu bersihkan. Cara inilah yang di rekomendasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Jadi sekali lagi, antiseptik, termasuk juga disinfektan, tidak boleh di campurkan sebagai cairan diffuser. Metode ini menyesatkan dan hanya akan membahayakan diri sendiri. Kamu bahkan bisa terkena penyakit parah karenanya.

Ikuti langkah-langkah yang direkomendasikan oleh lembaga-lembaga kesehatan dunia dan nasional saja, ya. Pencegahan COVID-19 yang utama adalah dengan mencuci tangan, jaga jarak fisik, karantina mandiri, dan menjaga imunitas.